Lulusan SMK Tak Usah Susah Susah Cari Kerja

18 November 2016  |  08:17  |  Admin  |  Pengumuman  |  Dilihat : 757x

Dalam terbitan tersebut, Kompas menyebut Lulusan SMK sebagai penyumbang angka pengangguran terbanyak yaitu 9,84 persen (1.35 juta orang) dari total pengangguran per Februari 2016.
 
Harian Kompas menilai kondisi tersebut disebabkan karena kompetensi yang dimiliki oleh lulusan SMK tidak memenuhi standar yang dibutuhkan dalam dunia Industri.
Oleh karena itu, bantuan dari dunia Industri dibutuhkan dalam mengakomodasi lulusan SMK tersebut agar dapat menekan angka penggagguran lulusan SMK yang tiap tahun semakin bertambah.
 
Meskipun dunia Industri telah membuka diri dengan menerima siswa SMK yang masih dalam proses studi untuk magang, dengan harapan setelah magang terbuka peluang yang lebih besar untuk bekerja di Industri tersebut, akan tetapi konsep ini masih jauh dari kenyataan.
 
Yang disebabkan oleh beberapa hal,
 
Pertama, pihak karyawan karena padatnya pekerjaan dan deadline pekerjaan membuat dia tidak punya waktu untuk mengajari siswa yang magang mengenai bagaimana mengerjakan pekerjaannya tersebut.
 
Hal ini membuat siswa SMK yang magang lebih banyak terlihat duduk melihat tanpa melakukan aktifitas.
 
Ataupun kalau melakukan aktifitas hanya membantu dalam urusan administrasi seperti fotocopi dokumen dan mengarsipkan dokumen.
 
Kedua, kualitas siswa SMK yang memang dibawah standar tidak memungkinkan dunia industri, apalagi industri yang berbasis sistem Informasi (IT) menshare pekerjaannya kepada siswa magang tersebut.
 
Alasannya sederhana, salah menginput informasi kedalam sistem akan menyebabkan kekacauan ke seluruh sistem di Industri tersebut.
 
Menurut penulis, faktor kompetensi memang menjadi faktor utama banyaknya pengangguran dari lulusan SMK.
 
Namun, faktor kompetensi tersebut juga diakibatkan oleh faktor yang lain, yaitu,
 
Pertama, asumsi masyarakat mengenai pendidikan SMK.
 
Bisa dikatakan bahwa pemerintah berhasil mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa pendidikan SMK merupakan alternatif pendidikan yang cepat membuat seseorang bekerja.
 
Seseorang tidak perlu kuliah karena kemampuan yang dimiliki lulusan Perguruan Tinggi (Serjana) juga dimiliki oleh lulusan SMK.
 
Asumsi mengenai pendidikan SMK ini membuat masyarakat khususnya dari masyarakat kelas bawah (berpenghasilan rendah) lebih memilih menyekolahkan putra-putrinya di SMK dengan harapan kelak anakya cepat bekerja.
 
Pada kenyataannya putra-putri masyarakat kelas bawah berasal dari sekolah (SD dan SMP) yang memiliki keterbatasan (kualitas rendah) dalam fasilitas dan tenaga pendidik, sehingga ketika masuk di sekolah SMK pada dasarnya memang sudah memiliki kualitas dibawah standar.
 
Kedua, mata pelajaran di tingkat SMK sangat berbeda dengan mata pelajaran di sekolah menengah atas (SMA).
 
Mata pelajaran di SMK menyesuaikan dengan jurusan di SMK tersebut. misalnya mata pelajaran di jurusan Akuntansi akan lebih banyak mempelajari keterampilan akuntansi dibanding dengan mata pelajaran lainnya.
 
Tidak hanya itu, mata pelajaran lainnya pun juga menyesuaikan dengan mata pelajaran pokoknya.
 
Seperti di jurusan akuntansi, maka akan dipelajari matematika keuangan, bahasa Ingris bisnis dan lainnya.
 
Hal ini yang membuat pengetahuan yang diperoleh di SMK sangat jauh berbeda dengan pengetahuan yang diperoleh di SMA.
 
Masalahnya kemudian dalam seleksi penerimaan karyawan di Industri, soal tes yang digunakan adalah soal tes umum seperti TPA, Matematika Umum, TOEFL, dan Psikotes.
 
Soal tes umum ini tentu membuat lulusan SMK kesulitan dalam menjawab soal-soal tersebut sehingga peluang untuk masuk di inudstri lebih kecil dibandingkan lulusan serjana atau SMA.
 
Kemudian tidak hanya itu, untuk masuk di perguruan Tinggi khususnya Perguruan tinggi terkemuka dilakukan tes yang menggunakan soal pengetahuan umum.
 
Hal ini tentu menyulitkan lulusan SMK untuk bersaing dengan lulusan SMA untuk masuk di PTN.
 
Hal ini dapat dilihat dari persentase lulusan SMK yang masuk PTN sangat sedikit dibandingkan lulusan SMA.
 
Dengan kondisi seperti ini, niat pemerintah untuk menambah jumlah sekolah SMK dapat kontra produktif dengan tujuan dari pembentukan sekolah tersebut.
 
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ada Lulusan SMK yang bisa melanjutkan ke PTN ternama lewat jalur seleksi tertulis.
 
Saya ambil contoh nyata, di Kota Makassar ada sebuah sekolah Kejuruan khusus Farmasi, SMF, dimana lulusannya tetap bisa masuk ke PTN paling ternama di Indonesia Timur, yaitu Universitas Hasanuddin, khusunya Jurusan Farmasi.
 
Jadi, tidak ada yang tidak bisa, tidak menutup kesempatan bagi seorang lulusan SMK untuk tidak dapat melanjutkan mengasah kemampuannya yang telah didapatkan selama 3 tahun di SMK, disempurnakan di PTN.
 
Sekarang ini, yang diperlukan adalah evaluasi seluruh faktor yang berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap keberadaan SMK.
 
Masyarakat perlu diedukasi bahwa SMK tidak hanya sekedar seolah untuk kerja cepat, tapi SMK dapat menjadi batu loncatan paling tetap untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi ternama yang sesuai dengan minat putra-putrinya.
 
Hal ini dapat memotivasi masyarakat, khususnya masyarakat kelas bawah untuk tidak berhenti menyekolahkan anaknya hanya sampai tingkat SMK tapi melanjutkan menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat Perguruan Tinggi.
 
Kedua perlu evaluasi pada seleksi penerimaan mahasiswa di Perguruan Tinggi ternama untuk dapat mengakomodasi keberadaan lulusan SMK dengan memberikan soal tes yang memang sesuai dengan palajaran yang diajarkan di sekolah SMK.
 
kemudian pemerintah perlu melakukan pendekatan kepada dunia inudstri agar lebih inklusif terhadap keberdaan siswa SMK yang magang.
 
Tentu kita mengharapkan siswa SMK yang magang tidak sekedar menjadi “tukang fotocopi”, tetapi dapat mendalami sistem kerja industri tersebut dengan terjun langsung ke dalam sistem perusahaan.
 
Ketiga, fasilitas sekolah SMK seperti laboratorium dan tekhnologi terkini perlu ditingkatkan dan juga kualitas tenaga pengajar sangat penting ditingkatkan agar pengetahuan tenaga pengajar dapat sejajar dengan kebutuhan dunia inudstri.
 
Tentu sangat ironis jika standar industri di tahun 2016 yang sudah berbasis sistem aplikasi online, tetapi tenaga pengajar di sekolah SMK masih menggunakan modul yang dicetak dengan mesik ketik.
 
Untuk menuju Indonesia yang sejahtera pemerintah harus menggeser orientasi pendidikan dari sekedar mencetak kelas pekerja (yang dibutuhkan dunia industri) kepada orientasi pendidikan yang dapat menumbuh kembangkan potensi dirinya dalam bidang apapun.
 
Pergeseran ekonomi ke arah ekonomi kreatif tidak hanya menuntut keterampilan dalam bekerja tapi juga kecerdasan dalam berkreasi, inovasi dan memanfaatkan teknologi.
 
Oleh karena itu, orientasi sekolah SMK tidak boleh hanya berhenti pada lulusan cepat kerja tapi harus berorientasi pada sekolah yang efektif untuk menumbuh kembangkan potensi siswa dalam hal Hard Skil maupun Soft Skill.
 
Harus terus dikembangkan potensi mahasiswa setelah lulus dari SMK
 
Yang menjadi pembeda utama dari lulusan SMK dan SMA adalah, kebanyakan lulusan SMK langsung memilih untuk bekerja karena merasa sudah memiliki skill dalam suatu bidang, padahal itu menjadi kurang.
 
Setelah lulus dari SMK, sudah seharusnyalah untuk tidak berhenti mengembangkan ilmu yang telah didapatkan, lanjutkan sampai ke PTN, karena disitulah kamu dilatih untuk “menciptakan” bukan hanya “mengerjakan”.
 
Lulusan SMK atau D3 dilatih untuk mahir dalam mengerjakan suatu bidang, sedangkan PTN dilatih untuk dapat mengembangkan dan menemukan suatu hal baru dalam suatu bidang.
 
Terlihat jelaskan bedanya?
 
Jangan malu kalau kamu lulusan SMK,
 
Terbukti kok, lulusan SMK yang masuk di PTN dengan jurusan yang sama dengan saat di SMK, lebih mahir dalam praktikum di kampus, tinggal bagaimana nantinya ilmu inovasi itu dapat kamu manfaatkan.
 
Kalau mau + niat, pasti bisa kok!


Share: